Review Curse of The Golden Flower : Kekuasaan dan Pengkhianatan

By | March 11, 2017

Gagah, maksimum konspirasi beserta habis mengenaskan. Itulah yang mampu dipandang untuk menilai film kreasi sutradara besar Zhang Yimou ini. Semacam perihalnya film peperangan Zhang Yimou sebelumnya, Hero serta House of Flying Dangers, dalam film ini amat menongol adegan-adegan atas telau kesunyian, atmosfer mencekam, serta perundingan yang tangguh dari per sosok. Seni berbalah yang adiwarna juga mengakibatkan nada sebagai mencekam.

Film ini dibuka sama nada kemegahan satu buah pihak berkuasa dalam era keluarga Kakaktua (zaman 7-10). Corak kuning logam mulia uang, bagunan pemerintahan yang gagah, sistem tempat negeri yang tersendiri bersama gemerlapnya busana raja lalu para pemain benar-benar menyukakan hati mata si pengamat. Sedemikian itu juga aktor lalu aktris, ribuan dayang-dayang yang lezat dilihat. Lamun segala kemegahan dalam negara itu memiliki panas, maksimum kerja sama lalu cinta tabu.

Review Curse of The Golden Flower Kekuasaan dan Pengkhianatan

Kaisar Ping (Chow Yun Fat) berupaya memperlihatkan keserasian keluarganya pada masyarakat. Dalam Parade Seruni (Keramaian Chong Yang) yang diadakan setiap tahun ditata bunga seruni di segala jengkal tanah negara. Kerajaan sebagai lautan kuning bunga seruni. Si permaisuri (Gelegah Li) menyiapkan semua upacara termasuk membordir bunga seruni pada beribu-ribu busana.

Percekcokan dimulai. Sang permaisuri kelihatannya memegang ikatan gelap bersama jejaka kekuasaan, Pangeran Wan, sang anak tiri. Si Kaisar sejak dahulu sudah bukan memiliki jalinan baik oleh permaisuri. Ia mewajibkan rani minum ramuan dari dokter adiraja yang sudah dicampur atas racun. Dalam sebagian waktu toksik ini mampu mendatangkan padmi hilang ingatan.

Padmi yang diperankan Kemung Li dengan ekspresif, tak bego. Ia mengetahui kerja sama licik itu. Ia perlu melawan. Dia kemudian membordir meluap bunga seruni dalam busana yang dalam Parade Seruni besok bakal dikenakan para prajuritnya. Kala itupula kudeta tentu dilakukan.

Ia melamar si putra mahkota, belahan diri gelap, mengenakan blus kegemilangan sama bunga seruni, tapi ia enggak kepingin. Dia mengetahui maksud Padmi. Hasilnya yang memimpin merupakan anak laki-laki maharani, maupun anak laki-laki kedua, Pangeran Jie.

Di sisi lain ditampilkan jalinan si anak dokter istana (Chan yang alit) bersama Pangeran Wan, ananda tahta. Kedua anak muda itu memiliki hubungan gelap. Raja mengetahuinya, sehingga ia meminggirkan dukun sinse istana dan keluarga ke luar kerajaan. Konfrontasi makin meruncing. Bini bomoh mahligai yaitu mantan induk beras pertama Si Adiraja yang sudah diusir dari kastel. Bermakna kedua anak baru yang dimabuk cinta dan seluruh ekspresinya itu yaitu kakak beradik. Induk beras dokter itu pulalah yang memasok kenal Permaisuri apabila ramuan yang dikasihkan kepadanya beracun.

Sang maharaja bergerak menghilangkan keluarga bomoh. Putaran kontak senjata oleh benang di bukit-bukit, sena berselubung yang bergelantungan sangat indah serta gigantik.
Parade Seruni dimulai. Negeri padat dengan ragam kuning-emas. Ketika itulah beribu-ribu rombongan kuning berkalung sulaman bunga seruni mendobrak kastel. Namun maharaja pernah menyediakan segalanya. Tamtama bersama kain bergelantungan di dalam palis memelihara sang raja. Di luar istana, ribuan prajurit seruni berjuang melawan puluhan ribu sena negeri omdimas dengan aturan pertempuran yang politis. Segmen roman, keagungan palis, tampang-tampang cantik yang terlihat di mahligai saling menumpahkan darah. Lautan darah terjalin di depan keraton. Bangkai tentara berhamburan. Dominasi Mahligai Imperial serasa berkurang.

Bagai ending, darah daging kedua si raja, pati padam diri, jejaka tahta suah mati juga, lalu ananda ketiga yang masih rendah pernah dibunuh sang kaisar dengan cela. Kesambet berhenti. Permaisuri diminta minum ramuan, tetapi dia membangkang dan menumpahkannya. Tuangan ramuan mengenai taris tembaga, lalu tembaga itu bersepai.
Mengeluarkan?

Chow Yun Fat beserta Kenung Li sebagai sentral segala cerita. Yun Fat benar-benar dingin, maupun dalam makna definit sangat mengakui kondisi. Kayak perihalnya film China lain, ia merupakan figur yang mencintai kesepian, ketenteraman alias harmoni. Kali payah ia mantap teduh, kala putra keduanya pati padam diri, ia yang sedang makan hanya beristirahat kunyah, menghentikan nafas serta memainkan sudut matanya. Silence itu yang dicintai Sang Kaisar. Sosok kayak itulah yang boleh jadi dikehendaki si guru yakni Tao.

Kenung Li tidak cukup ditampilkan selaku permaisauri yang anggun beserta elok. Ekspresi bidang, senyuman sinis nan misterius, bersama kemampuannya memalangi kata dalam setiap episode membuat cuaca mencekam, misterius dan menghentikan animo serta nafas pirsawan.

Luar biasa. Akibatnya itu yang sanggup dikatakan. Film ini sudah diharapkan selaku Film Asing Paling baik dalam Academy Award 2007 ini. Tiada mengerti apa yang bakal terjadi kelak.